Musi Tour PEI Cabang Palembang Tahun 2018

  1. Jembatan Ampera

 

 

Jembatan Ampera yang berada di tengah atau pusat kota dan menjadi penghubung daerah Seberang Ilir dan Seberang Ulu. Kedua daerah ini dipisahkan oleh sebuah sungai yang bernama Sungai Musi. Selain kuliner khas Palembang yang sangat populer, Jembatan Ampera sudah menjadi ikon dari Kota Palembang. Jembatan ini mulai dibangun pada bulan April tahun 1962 setelah mendapat persetujuan dari Presiden Soekarno dengan biaya diambil dari pampasan perang Jepang.

Jembatan Ampera sendiri dulunya bernama Jembatan Bung Karno. Pemberian nama “Bung Karno” merupakan sebuah bentuk penghargaan kepada beliau yang memperjuangkan keinginan masyarakat Palembang untuk menyatukan Seberang Ulu dengan Seberang Ilir. Pada saat itu, Jembatan Ampera merupakan jembatan terpanjang di Asia Tenggara. Penggantian nama Jembatan Bung Karno terjadi pada tahun 1966, saat terjadi pergolakan politik di Indonesia yang kemudian nama jembatan tersebut diganti menjadi Jembatan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat).

Pada awalnya bagian tengah badan Jembatan Ampera dapat dikontrol naik turun, mengingat pada masa itu, Sungai Musi merupakan jalur utama perdagangan yang mengandalkan transportasi laut. Namun, seiring dengan perkembangan di Kota Palembang pada tahun 1970 yang kian padat dianggap mengganggu arus lalu lintas transportasi darat. Oleh karena itu, naik turun jembatan tidak dioperasikan lagi. Karena waktu yang diperlukan untuk mengangkat jembatan tersebut relatif lama yaitu sekitar 30 menit (http://www.gosumatra.com).

2. Pulau Kemaro

 

(http://anekatempatwisata.com)

Pulau Kemaro adalah sebuah delta kecil yang berada di perairan Sungai Musi dengan jarak sekitar 6,5 km dari Jembatan Ampera. Penduduk setempat memberikan nama “Kemaro” pada pulau ini disebabkan karena delta kecil tersebut selalu kering. Walaupun dalam keadaan pasang, pulau tersebut tetap tidak memiliki air. Sehingga pulau yang sering didatangi oleh wisatawan ini nampak seperti terapung di atas Sungai Musi. Bagi masyarakat Tionghoa di Palembang, Pulau Kemaro merupakan tempat yang spesial. Di pulau ini telah dibangun vihara dan pagoda 9 lantai. Umumnya, pemeluk agama Budha yang berkunjung ke Pulau Kemaro selain untuk beribadah mereka juga akan berziarah. Pada saat acara Tahun Baru Imlek atau Cap Go Meh, Pulau Kemaro akan semakin ramai dikunjungi oleh etnis Tionghoa dan juga penduduk lokal. Untuk mencapai Pulau Kemaro, wisatawan dapat menyewa perahu motor dari kawasan wisata Benteng Kuto Besak. Walaupun tempat wisata ini lebih dekat untuk dicapai dari Intirub, namun hanya sebagian kecil dari wisatawan lokal yang berangkat ke Pulau Kemaro melalui dermaga sederhana di kawasan Intirub ( (http://www.pergiberwisata.com).

3. Tugu Ikan Belido

 

(Sumber foto: Gambar 1:sumsel.tribunnews.com; Gambar 2 : https://lifestyle.okezone.com)

Tugu Ikan Belido merupakan ikon baru bagi kota Palembang. Pembangunan tugu terinspirasi dari Patung Merlion yang ada di Singapura, yang menjadi simbol negara tetangga tersebut. Tugu Ikan Belido dibangun di kawasan Plaza Benteng Kuto Besak Palembang dan menghadap Sungai Musi, habitat asli ikan khas ibu kota Sumatera Selatan ini. Proses pembangunan patung seberat 2 ton ini sudah dilakukan sejak november 2016 lalu, dan kini telah selesai. Warga Palembang dan sekitarnya memanfaatkan tugu sebagai lokasi berfoto, lengkap dengan latar belakang Jembatan Ampera. sehingga menjadi ikon baru kota Palembang (sumsel.tribunnews.com)

4. MONPERA (Monumen Perjuangan Rakyat) Palembang

 

Berkunjung ke MONPERA (Monumen Perjuangan Rakyat) di Kota Palembang dapat menambah wawasan Anda terutama mengenai sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam perang 5 hari 5 malam di Palembang. Monumen yang dibangun sebagai simbol penghargaan kepada para pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, berdiri
kokoh dengan tinggi bangunan 17 meter, terdiri dari 8 lantai, dan memiliki 45 bidang. Bentuk bangunannya sungguh unik karena menyerupai bunga melati dengan 5 kelopak.

Koleksi benda bersejarah yang berada di dalam MONPERA Palembang terdiri dari foto, persenjataan, patung pahlawan, baju dinas yang digunakan oleh para pahlawan, dan juga terdapat mata uang sejak tahun 1945. Semua koleksi tertata dengan rapi dan terawat. Setiap pengunjung dapat dengan nyaman menikmati aneka koleksi tersebut. MONPERA Palembang terdiri dari 8 lantai. Lantai dasar atau lantai pertama terdapat foto-foto pada masa perjuangan, ruang penitipan, dan juga beberapa buku sejarah perjuangan. Setiap pengunjung diizinkan untuk membaca buku tersebut (http://www.pergiberwisata.com).

5. Masjid Agung Palembang

 

Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin atau sering disebut dengan nama Masjid Agung Palembang merupakan masjid terbesar di Kota Palembang. Masjid yang didirikan pada abad XVIII oleh Sultan Mahmud Badaruddin I, dipengaruhi oleh 3 gaya arsitektur dunia yaitu Indonesia, Eropa, dan Cina. Gaya arsitektur Eropa terlihat pada pintu masuk masjid yang berukuran besar serta tinggi. Sedangkan gaya arsitektur Cina dapat dilihat pada bentuk atap masjid utama yang mirip dengan kelenteng.

Saat ini, bentuk Masjid Agung Palembang merupakan hasil renovasi pada tahun 2000 s.d. 2003. Luas keseluruhan dari areal masjid kurang lebih 15.400 m. Bangunan masjid terdiri dari bangunan utama (lama), serambi, dan bangunan baru (tambahan). Setelah selesai dibangun, masjid terbesar di kota bahari ini diresmikan oleh Ibu Megawati Soekarnoputri. Lokasi Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin berada pada tempat yang strategis karena terletak di pusat kota. Hanya dengan berjalan kaki Anda bisa menuju ke beberapa obyek wisata di Palembang seperti dan Jembatan Ampera (http://www.pergiberwisata.com).